To Hear But Not Listen, Seeing But Not Perceiving

Toto Tasmara , FB Status 2 Oktober 2013

To Hear But Not Listen, Seeing But Not Perceiving

Di dalam Al-Qur’an banyak sekali perumpamaan (amsal) yang harus kita tadaburi dengan penuh rasa ingin tahu, salah satu perumpaman itu adalah manusia yang diberi peringatan tetapi mereka tidak mau mendengarkan.

Mereka mempunyai telinga tetapi tidak mau mendengarkan - ”..... walahum adzanun la yasma’una biha...” [QS. 7:179]. Bahkan kebanyakan dari manusia masuk dalam neraka dikarenakan punya telinga tetapi tidak mau mendengarkan. Bukan karena tuli (deaf) bukan karena bisu (dumb), keduanya adalah penyakit fisik yang harus diobati dokter.

Perumpamaan Al-Qur’an tentang mempunyai telinga tetapi tidak mendengar artinya ia mendengar tetapi tidak menyimak dan tidak mau mengerti. Dalam Bahasa Inggris ada ungkapan to hear but not listen!, atau ada juga ungkapan seeing but not perceiving.

Orang yang tuli, bukanlah telinganya sakit, tetapi ia berada dalam kegelapan hati. Orang sufi membagi “ tahu“ itu dalam empat hal yaitu:
  1. Ia tahu bahwa dirinya tidak tahu (saatnya belajar)
  2. Ia tahu bahwa dirinya tahu (manfaatkan ilmumu)
  3. Ia tidak tahu bahwa dirinya tahu (ayo bangun, kamu mimpi!)
  4. Ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu (ah...hati-hati,zombiii).
Untuk mengetahui dalam posisi mana Anda berada, obatnya adalah mendengarkan dengan hati, dan dipenuhi dengan rasa ingin tahu.

Di Majelis taklim umumnya ada yang mendengar tetapi tidak menyimak, ia bahkan tidak mengerti apa yang disampaikan ustadznya. Mendengar (sama’) menurut Al-Qur’an berarti mengerti dan mau mengambil pelajaran untuk mengamalkannya.

Salah satu obat agar kita mau menyimak (listening) yaitu dengan memperhatikan sungguh-sungguh apa yang ia dengar dan menumbuhkan rasa ingin tahu (courious) yaitu dengan bertanya. Ada beberapa tipe bertanya, Pertama, asking, bertanya karena memang ia ingin tahu agar dapat pencerahan. Yang kedua, verification atau validation, yaitu mencocokkan untuk memperkuat apa yang dalam pikiran kita dengan pesan-pesan yang ia dengar. Yang ketiga, confirmation, ia hanya bertanya dan mendengar yang sesuai dengan pendapat dirinya, bila ustadnya tidak ia sukai (karena berbagai alasan) , biasanya ia mendengar sekedar formalitas atau bahkan hatinya tidak lagi di taklim tersebut.

Keempat, orang bertanya karena mau ngetest kedalaman ilmu ustadznya. Bila anda punya tipe yang keempat ini, ketika Anda tidak suka dengan apa yang disampaikan, setidaknya jangan mengganggu konsentrasi jamaah yang lain yang memang niatnya ingin mendengar.

Menarik untuk disimak pendapat dari Sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib, “idza lam takun ‘aliman nathiqo, fakun mustami’an wa’iyyan - bila Anda tidak bisa menjadi orang alim yang memberi nasehat, jadilah pendengar yang baik bisa memahami nasehat tersebut “.

Untuk menjadi pendengar yang baik (udzunun wa’iyyah - telinga yang mau mendengar), luruskan niat, bersihkan hati, bahwa dengan mendengar yang sungguh-sungguh kita sedang menyalakan ilmu yang akan membuka jendela hati, sehingga cahaya Ilahi masuk melalui jendela-jendela hikmah tersebut.

Tetapi bila kita tidak bersungguh-sungguh, niscaya hati kita terkunci sebagaimana allah berfirman, ”hati mereka telah terkunci, khotamallahu ‘ala qulubihim wa ‘ala sam’ihim wa ‘ ala abshorihim [QS 2:27].

Lebih sedih lagi apabila kita sudah di-cap sebagai shummun (tuli) niscaya kita akan berada dalam kegelapan, sebagaimana Allah berfirman, “mereka buta, bisu, tuli, dan tidak kembali (tersesat) - shummun bukmun ‘umyun fahum la yarji’un [QS. 2:18].
to-hear-but-not-listen-seeing-but-not-perceiving
To Hear But Not Listen, Seeing But Not Perceiving

Untuk melatih pendengaran (listening), mudah-mudahan tips di bawah ini berguna, yaitu:
  1. Pandanglah lawan bicara kita dengan senyuman di wajah.
  2. Jangan memotong pembicaraan.
  3. Belajarlah untuk menjadi pendengar yang baik (good listener), kebaikan seringkali datang karena kita mendengar, sebaliknya banyak keburukan karena kita terlalu banyak bicara. Sesungguhnya dalam pembicaraan itu terbukalah penilain orang terhadap diri kita.
  4. Jangan langsung mengkritik tetapi awali dulu dengan memberikan apresiasi kepada pembicara, dengan metoda yes..., but... (ya..., tapi...). ”Ya Pak saya senang dengan apa yang bapak sampaikan, tetapi.........
  5. Belajarlah menyimak dan menghargai orang lain. Berikan dukungan dan kesempatan bicara kepada orang yang bertanya.
Inilah tip yang mudah-mudahan berguna bagi mereka yang merindukan hikmah dan ingin mendengar! Amin.

Riverside 28 Sept. 2013.
Subhanallah dingin sekali di malam hari.

To Hear But Not Listen, Seeing But Not Perceiving

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel