Tantangan Dakwah - 1

Toto Tasmara, FB Status 3 April 2015

Tantangan Dakwah – 1

Mubaligh di jaman global, bukan hanya mereka yang jago atau menjadi singa di podium saja tetapi juga adalah mereka yang jago di lapangan kehidupan, mampu menyelami keadaan umatnya, menjadi teladan dan harapan seraya bersimpuh di ujung derita kaum dzuafa, mendengarkan rintihannya. Mampu memberikan obor penerang bagi mereka yang kegelapan, memberikan selimut kehangatan bagi mereka yang menggigigil telanjang dan kedinginan, dan berbagi sepiring nasi dan roti bagi mereka yang kelaparan.
tantangan-dakwah-1
Tantangan Dakwah - 1
Sebagaimana Rasulullah telah memberikan pesan-pesannya yang mulia yaitu: “agar mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, serta memerintahkan agar bersikap rendah hati, melihat kepada orang yang berada di bawah dan tidak terpesona melihat orang yang berada di atas.” (Hadist diriwayatkan Imam Ahmad - nasehat Rasulullah kepada Abu Dzar).

Para mubaligh atau mujahid dakwah adalah mereka yang sangat sensitif memandang keadaan diri dan umatnya. Mereka sangat cemburu melihat keadaan agamanya, sehingga mereka akan terus meningkatkan dirinya melalui berbagai pelatihan, untuk menggapai pribadi-pribadi yang berkualitas.

Dakwah juga berkaitan dengan pencitraan. Ketika umat Islam berada pada jaman keemasannya (the golden age) dimana pencapaian sains dan teknologi mengungguli bangsa-bangsa lainnya, Islam memperoleh citra positif. Atribut dan asesoris Islam dipakai dan dibanggakan bangsa lainnya. Mereka bangga memakai nama-nama Islam karena identik dengan kemajuan, modern. Mereka bangga memakai istilah dalam bahasa Arab (sebagaimana kita memakai bahasa Inggris) karena terdengar seperti meningkatkan status menjadi well educated. Dakwah Islamiyah menyebar dengan cepat karena didukung oleh pencapaian prestasi, utamanya periode Andalusia yang wibawanya menggema bahkan memberikan pengaruh sangat mendalam pada dunia barat.

Tetapi, betapa nurani terasa menjerit terhimpit. Relung jiwa terguncang. Harga diri terasa tercabik sakit, ketika menyimak keadaan seperti di bawah ini:
  • Di seluruh negara muslim, hanya terdapat 500 Universitas. Di Amerika 5.758 Universitas. Di India 8.407 Universitas.
  • Tidak ada satu pun universitas di negara Islam yang masuk dalam urutan top dunia (the top 500 ranking universities of the world)
  • Melek huruf di dunia barat 90%. Melek huruf di negara Islam 40%.
  • Di limabelas negara dengan penduduk mayoritas non Muslim (termasuk Jepang), tingkat melek huruf 100%. Sementara itu tidak ada satu negara muslim yang masuk katagori 100% melek huruf.
  • 40% di negara mayoritas beragama kristen menikmati sekolah di perguruan tinggi. Sedangkan di negara yang berpenduduk mayoritas muslim hanya 2%.
  • Di negara dengan mayoritas muslim, diantara satu juta penduduk hanya ada 230 saintis. Di Amerika terdapat 5.000 saintis per satu juta penduduk. Di negara berpenduduk kristen ada 1.000 tehnisi per satu juta penduduk. Di dunia Arab hanya ada 50 tehnisi per satu juta penduduk.
  • Negara-negara Islam hanya menyediakan anggaran 0,2% untuk penelitian (research), negara-negara barat 5%, dan Jepang 7,5%.
  • Dalam hal TIK (Tehnologi informasi dan komunikasi), negara-negara dengan penduduk mayoritas Islam, jauh ketinggalan dari negara non muslim. Saat ini, selain negara Amerika dan Eropa, China termasuk negara di Asia yang mulai menunjukkan wibawanya. China memiliki 1.100 pusat penelitian, disusul India yang mempunyai 800 Litbang. Setiap tahun negara China mampu melahirkan ratusan sarjana dengan gelar PhD disusul oleh India yang menghasilkan rata-rata 100 PHD (Reuters, 24 Juli 2009).

Bukan tidak mungkin suatu saat nanti China akan menggeser dominasi Amerika. (selanjutnya Anda dapat membaca tulisan saya yang berjudul “Yahudi , mengapa mereka berprestasi “, diterbitkan oleh GIP)

Fakta tersebut sekaligus harus kita jadikan tantangan dakwah. Sehingga, sudah saatnya para cendikiawan dan ulama, ustadz, penceramah tidak hanya berorientasi pada pembahasan fikih ibadah ritual, tetapi juga membahas fikih sosial, fikih amaliyah (etos kerja) , fikih ilmiyah (etos keilmuan), dan fikih global (alamiyah).

Keadaan dan wajah umat saat ini merupakan situasi yang sangat tidak menunjang gerakan dakwah secara global. Orang-orang yang menjadi objek dakwah tidak lagi memandang Islam sebagai agama yang memberikan solusi. Islam tidak seperti dipelopori para Assabiqunal Awwalun, Islam yang sejuk, Islam yang penuh Prestasi, Islam yang modern, Islam yang Kasih, Islam yang penuh cinta, akhlaqul karimah, Islam yang rahmatan lil alamin. Bahkan tokoh Masyumi dan Perdana Menteri pertama Republik Indonesia, Moh Natsir, dalam bukunya fiqud dakwah menulis bahwa umat Islam harus “kuat pendirian tetapi lemah lembut dalam penyampaian - fortiter in re suaviter in modo

Kewajiban dakwah dan tablig tentu saja bukan otoritas seseorang. Tetapi setiap pribadi muslim wajib terlibat aktif dalam syiarul Islam menyebarkan keindahan dan keluhuran akhlak Islam. Karenanya, menghadapi situasi global dan tantangan politik di sekitar kita yang jelas tidak berpihak pada misi akhlak Islam, merupakan kewajiban setiap individu yang merindukan pertemuan dengan Allah melalui amal shalihnya yaitu ikut aktif melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan keagamaan yang produktif dan membumi. Bila ada pengajian di sekitar rumahnya, dialah yang akan menjadi pelopornya. Bila ada panggilan adzan di masjid di dekat rumahnya, dialah orang pertama yang memasuki rumah Allah itu. Bila ada orang yang sakit bahkan orang yang merintih kelaparan, dialah orang pertama yang menjenguk dan mengulurkan tangan berbagi derita dengan mereka.

Dakwah yang dilakukan scara interdisipliner, sehingga setiap pribadi merasa terpanggil berbuat untuk agamanya sesuai dengan profesinya masing-masing, atau kita sebut dengan istilah Total Dakwah dan Dakwah Total!

Toto Tasmara

Tantangan Dakwah - 1.

Subscribe to receive free email updates: