Beraudiensi Dengan Ilahi

Toto Tasmara, FB Status 22 September 2011

Beraudiensi Dengan Ilahi

Bila hati sempit terhimpit, tidak ada pintu penghiburan kecuali doa.
Bila jiwa didekap gelap, tidak ada pelita batin paling benderang, kecuali doa.
Bila tantangan menghadang, tidak ada pedang kelewang paling tajam kecuali doa.
Dan bila jiwa dibadai kebahagiaan, tidak ada ucap syukur paling menjulang kecuali doa.
beraudiensi-dengan-ilahi
Beraudiensi Dengan Ilahi
Doa adalah senjatanya orang mukmin, tiangnya agama, cahaya langit dan bumi yang menerangi hati, para perindu ridha Ilahi.

Ketika sebongkah hati didera gelisah, jiwa terguncang diterkam bimbang, para perindu Ilahi segera menyingkap jantungnya malam (qalbu lail) untuk memeluk keheningan jiwa seraya tersungkur bersujud merintihkan doa dengan rasa penuh harap dan cemas.

Setiap kali ia menyebut nama Allah, tetesan air matanya bergulir di pipinya dan sebersit harapan yang tertunda kini menari kembali di relung hatinya. Sayap-sayap batinnya dipenuhi rasa optimis yang menghantarkan imannya semakin menjulang.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakkal.”
[QS. Al Anfal (8) : 2]

Maka, seseorang yang sedang pada posisi berdoa, hakekatnya ia sedang menggetarkan hatinya, menyeru dan mengharap ridha Ilahi dengan mengetuk hati nuraninya dengan penuh harap seraya menghadirkan dirinya di hadapan Yang Maha Terpuji.

Tampaklah bahwa doa itu benar-benar merupakan cinta kasih Allah kepada manusia. Tidak dapat dibayangkan seseorang yang tidak dibekali doa, ke manakah harapan harus diarahkan, kepada siapakah rintihan hati disampaikan?

Karenanya doa adalah kunci harapan bagi para pengembara fana yang menunjukkan rasa syukur ketika bahagia dan bersabar saat dirinya terguncang bimbang, terhimpit sakit, tertindih pedih didera deru debu dunia.

Dengan dibekali doa, betapapun diharu derita, dia masih mempunyai harapan. Walau sinar mentari telah lindap tenggelam digenggam malam, ia tidak berkeluh kesah karena sebentar lagi ia akan menyaksikan betapa bintang-bintang gemerlapan untuk dijadikan petunjuk arah para nakhoda piawai, ke mana biduk kehidupan harus diarahkan.

Dalam rintihan doanya, para pengembara fana tenggelam dalam makrifat, menyelusup mencari makna diri, berbisik merintih dan ada semacam pengalaman batin yang tidak dapat diartikulasikan dengan untaian kata, karena sesungguhnya manusia tidak akan pernah secara utuh menangkap dan mengungkap misteri wajah batinnya.

Pengalaman batin untuk menyingkap rahasia qalbu pada dasarnya hanya dapat direngkuh bila kita berada dalam keheningan dan keprihatinan atau mengheningkan akal budi kita sendiri. Kita tidak akan pernah mampu menangkap wajah dengan bercermin di air yang deras dan keruh, tetapi wajah kita akan tertangkap secara samar justru di permukaan air yang bening dan tenang. Dengan berdoa, kita sedang menenggelamkan diri kita untuk kemudian muncul kembali. Berhenti sejenak untuk kemudian meronta menebar cinta memetik makna. Dengan berdoa, kita mengalami ekstasi ketenangan luar biasa, dan bermunculanlah optimisme bagaikan memandang cahaya benderang, kesanalah diri kita melangkah ke hadapan Ilahi.

Walau langit kelap kelip, bumi gonjang ganjing, fitnah kucap kacip, nilai-nilai kebenaran dijungkirbalikan, tidak ada kata putus asa dalam kamus kehidupan orang beriman. Dengan kekuatan doanya yang melangit, wajah-wajah yang resah akan berubah menjadi rembulan yang memancarkan keteduhan. Karena mereka meyakini, betapa Sang Kekasih Yang Maha Pengasih telah berfirman,

"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya".
[QS. Az-Zumar (39) : 53]

Doa adalah mata hatinya ibadah, senjatanya orang-orang yang beriman. Doa adalah perbendaharaan bagi para musafir miskin yang gundah. Doa adalah pepohonan rindang tempat berteduh para hamba yang lelah karena fitnah. Doa adalah mata air untuk memadamkan jiwa yang terbakar api dunia. Doa adalah hamparan sajadah batin, mihrab suci tempat beraudiensi para pejalan yang dahaga mencari cinta. Mereka yang merindu Ilahi sangat menyadari bahwa doa itu adalah perbuatan batin yang sangat dicintai Allah. Bahkan mereka tidak mungkin melepaskan dirinya dari kegemarannya berdoa.

Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: "Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah, maka murkalah Allah kepadanya" (HR.Turmudzi).

Begitu kasih Allah kepada hamba-hamba-Nya, sehingga Dia adalah Maha Dzat yang sangat menyukai hamba yang selalu memohon kepada-Nya.

Betapapun hidup memelas terpasung, jiwa terhempas bingung, mereka yakin Allah dengan cara-Nya sendiri yang terkadang misterius, akan mengabulkan jeritan hati hamba-Nya yang menjerit memohon uluran tangan-Nya, selama syarat-syarat-Nya dipenuhi. Menebar kebaikan, dibalut rasa opitmis penuh yakin seraya menjaga perutnya agar tetap bersih dari makanan dan minuman yang haram. Sedang lidahnya melagukan senandung cinta bukan caci atau cerca.

Tidak ada sedikitpun terbersit keraguan akan terbukanya ijabah doa. Karena Allah berfirman,

“Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)”.
[QS. An-Naml (27) : 62]
Beraudiensi dengan Ilahi.

Subscribe to receive free email updates: